Bill Cunningham, digambar oleh Hilton Dresden
Bill Cunningham, digambar oleh Hilton Dresden

Money’s the cheapest thing. Liberty and freedom is the most expensive. – Bill Cunningham

Bill Cunningham, fotografer mode jalanan yang bekerja untuk The New York Times meninggal dunia pada Sabtu minggu lalu dalam usia 87 tahun. Cunningham dikenal sebagai salah satu fotografer dengan etos kerja tinggi, matanya yang sigap dengan tren fashion, dan kesederhanaannya.

Ia dikenal luas oleh kalangan mode di New York hingga Paris. Ia juga menjadi idola sebagian fotografer jalanan karena mayoritas karyanya memang diambil di jalanan kota New York, bukan catwalk.

Saya tidak terlalu mengikuti karya-karya Cunningham, seperti saya kerap mencari dan menikmati karya Richard Kalvar atau Martin Parr. Teman saya di Batam, Tino yang memberitahu nama Bill Cunningham setahun yang lalu saat saya masih di Batam.

Tino merekomendasikan film Bill Cunningham New York karena tahu saya senang dengan street photography. Saya kemudian mencari film itu dan menontonnya. Setelah dua kali menonton, saya kagum dengan karya dan prinsip Cunningham.

Embed from Getty Images

Saat film itu dibuat pada 2009-2010, Cunningham masih aktif memotret dengan Nikon FM2 dan beberapa rol Fujifilm Superia. Ia selalu punya langganan tempat memproses film. Di meja kerjanya di The Times, ia memiliki seorang asisten yang sering ia marahi untuk memasukkan dan mengambil film di lab langganannya.

Di usia 80-an saat itu, Bill masih senang berkejar kejaran dengan deadline untuk koran terbitan hari Minggu. Namun sepertinya redaksi NYT gelisah jika terus menunggu Bill memroses filmnya sehingga akhir-akhir ini Cunningham terlihat menggunakan kamera digital Nikon seri D5000-an.

Dari sisi karya, Cunningham dikenal memiliki mata yang sangat tajam. Ia bisa melihat tren fashion apa yang sedang in dikalangan New Yorker. Ia tertarik dengan rantai pinggang, celana hipster, hingga sepatu boot yang dikenakan warga.

Embed from Getty Images

Saya tak bisa membahas banyak soal karya Bill. Namun, saya sangat kagum dengan kesederhanaannya.

Nyaris tidak ada ikon mode di New York yang tak mengenal Bill. Merupakan suatu kehormatan bagi mereka jika Cunningham memanggil dan memotret mereka dengan FM2-nya. Bahkan pemimpin majalah Vogue yang kejam, Anna Wintour selalu menyempatkan diri berpose jika Bill ingin memotretnya dalam sebuah acara. Wintour jarang melakukan itu untuk fotografer lainnya.

Namun dengan segala keglamoran dunia mode dan statusnya sebagai fotografer di The Times, Cunningham memilih tetap hidup sederhana. Ia dikenal sebagai pak tua yang gemar bersepeda Ontel menuju lokasi pemotretannya di sudut 57th St and Fifth Ave. Ia bahkan suka bersepeda malam-malam sambil mengenakan tuxedo ke beberapa pertemuan makan malam dan acara amal yang marak di New York.

Selain ngontel, Cunningham dikenal dengan jaket birunya dan topi pet. Selama hidupnya, ia berkali-kali harus membeli sepeda ontel dan jaket biru baru karena rusak atau hilang digondol maling.

Embed from Getty Images

Satu cerita dalam dokumenter Bill Cunningham New York adalah ketika salah poncho yang ia kenakan saat hujan sobek. Alih-alih membeli poncho baru, ia malah mengambil lakban dan merekatkan bagian yang sobek dengan lakban. Cerita lain adalah kegemarannya sarapan burger plus kopi yang total harganya hanya tiga dollar di dekat kantornya.

Dari semua itu, yang paling saya kagumi adalah semangat independensinya yang sangat tinggi. Meski ia tak melabeli dirinya sebagai pewarta foto, Cunningham selalu menjaga jarak dengan subyek yang ia foto. Barangkali secara tak tertulis prinsip Cunningham seperti ini : “Saya dapat fotomu, dan kamu terkenal karena muncul di The New York Times.”

Ia menerapkan itu terutama dalam acara-acara gala, amal, dan makan malam. Setelah Cunningham memotret orang-orang kaya New York, ia langsung pamit dari acara itu untuk pulang ke apartemennya, atau ke makan malam lainnya.

Cunningham menolak bahkan untuk duduk makan dan minum dalam acara itu. Dalam dokumenter New York, ia mengatakan dirinya ingin menjaga independensinya dan tidak ingin bergantung pada orang lain.

Embed from Getty Images

Sebagai bekas wartawan, saya sangat kagum dengan sikap seperti itu karena, sebagai wartawan kami sering aji mumpung dengan menikmati fasilitas-fasilitas dalam sebuah acara. Karena keuangan saya hanya cukup untuk makan di warteg arau pujasera, acara yang berlangsung di hotel atau restoran merupakan tempat untuk merasakan makanan-makanan yang lebih mewah.

Itu baru makanan. Hal lain seperti tiket pesawat yang disediakan oleh panitia, kamar di hotel berbintang, hiburan malam plus-plus, hingga uang transport yang terkadang ditoleransi oleh wartawan dan penerbitnya.

Sikap Cunningham membuat saya malu sebagai wartawan (saat itu). Memang Bill memilih untuk tidak menikah atau menjalin hubungan khusus (di dokumenter, ia juga menegaskan dirinya bukan gay). Namun, ia mencukupkan dirinya dengan apa yang menjadi haknya dan berusaha tidak bergantung pada orang-orang di luar tempat ia bekerja.

Cunningham mengaku tidak terlalu memikirkan soal uang. Itu dibenarkan oleh mantan editor majalah tempat ia bekerja sebelum The Times. Menurut editor itu, ia sampai menelepon dan memarahi Bill karena tak pernah mengambil cek bayarannya selama berbulan-bulan sedangkan Bill tetap memotret dan memasukkan fotonya ke majalah itu.

Embed from Getty Images

Tak gampang untuk memegang prinsip independen seperti Cunningham di tengah tuntutan dan godaan materi saat ini. Saat saya jadi wartawan, selain masalah aji mumpung, ada perasaan tiak ingin mengecewakan tuan rumah yang sudah menyiapkan jamuan untuk para wartawan.

Di mata saya, Cunningham memanfaatkan betul wibawa dan ketenarannya sebagai fotografer senior yang disegani agar tetap menghidupi prinsipnya. Barangkali, subyek fotonya tak ingin kehilangan kesempatan masuk dalam kolom mingguan Bill Cunningham On The Street di The TImes. Mungkin, ia juga sudah khatam menguasai seni menolak.

Kepergian Bill Cunningham merupakan kesedihan kedua saya dalam fotografi di semester pertama 2016. Sebelumnya, fotografer favorit saya lainnya, Peter Marlow pergi untuk selamanya setelah berjuang melawan kanker.

Dari Bill saya belajar soal kesederhanaan dan fokus terhadap kebahagiaan memotret di jalanan. Bill secara produktif menghasilkan essay-essay foto setiap minggunya dari kegemarannya pada mode jalanan. Matanya selalu jeli untuk melihat hal-hal yang baru meski ia selalu memotret di lokasi yang sama setiap minggunya.

Iklan