Warga menonton atraksi di alun-alun Engku Puteri
© Yermia Riezky

Saya bukan fotografer profesional. Saya tidak mencari nafkah dari kegiatan memotret. Setahun terakhir penghasilan utama saya dan keluarga berasal dari penjualan daster dan menerjemahkan berita untuk salah satu portal berita di Indonesia.

Karena hanya seorang amatir atau penghobi, sebagian besar waktu saya bukan untuk memotret. Banyak hal yang harus saya lakukan untuk menopang kehidupan keluargaku secara ekonomi.

Namun fotografi merupakan passion bagi saya. Sama halnya dengan menulis. Menerjemahkan berita, meski hasilnya dapat membayar tagihan-tagihan keluarga, tapi ia pekerjaan yang menjemukan. Saya tak bisa menggunakan hati untuk mengerjakannya. Kreatifitas saya juga tak tertuang dalam setiap kata-katanya.

Jauh berbeda jika saya memotret dan menulis artikel atau blog ini. Saya dapat menumpahkan isi hati dan kreatifitas pada kedua bidang tersebut. Di dua bidang itu saya dapat merasakan nikmatnya bekerja.

Akhir-akhir ini karena waktu yang sedikit dan terbatas itu saya harus susah payah menentukan saat dan membagi tujuan saya untuk memotret. Secara umum, saya memiliki dua tujuan saat memotret. Saya memotret untuk foto stok di Alamy atau mengerjakan fotografi jalanan (street photography). Yang membedakan dari kedua tujuan itu adalah kamera yang saya gunakan.

Para Bhayangkari dan seorang polwan usai sebuah acara di alun-alun engku puter.
© Yermia Riezky

Untuk stok foto saya menggunakan Nikon D90. Alamy punya standar teknis kamera dan Nikon D90 termasuk di dalamnya. Mau tak mau saya harus menggunakan itu dan bukannya Ricoh GRD iii.

Sementara itu untuk Street Photography saya lebih senang menggunakan Ricoh GRD iii. Ia ringkas, kecil, dan tak mengganggu subyek foto.

Sebetulnya saya bisa menggunakan Nikon untuk street photography dan saya masih sering menggunakannya untuk fotografi jalanan yang berwarna. Foto-foto tersebut bisa saya masukkan ke Alamy.

Sebaliknya foto-foto jalanan yang dari Ricoh juga bisa dimasukkan ke stok foto. Namun saya tak memasukkannya ke Alamy melainkan ke beberapa situs microstok, Eyeem, atau 500px.

Silent Neighbour-13
© Yermia Riezky

Dengan Nikon saya memerlukan keunggulan teknis, kecepatan, prosesor, dan penerimaannya di Alamy. Tapi DSLR adalah kamera yang berat dan menarik perhatian. Selain itu saya masih sering kesa dengan pertanyaan,”wartawan dari media mana pak?” setiap kali menenteng DSLR.

Sementara Ricoh kamera yang kecil, tak mengganggu dan membuat saya terlihat seperti turis tolol yang senangnya jeprat jepret sana sini. Orang mungkin menertawakan saya tapi saya bisa mendapatkan foto tanpa pose kesukaan saya.

Saya hanya memotret pada akhir minggu jika benar-benar kosong. Atau jika memang ada acara-acara resmi seperti festival atau pameran. Jujur, saya kesulitan untuk membuat essay atau foto cerita karena fokus utama saya saat ini bukan untuk fotografi. Namun dengan passion memotret yang tinggi, saya ingin suatu saat foto-foto yang acak itu bisa dikompilasikan dan membentuk satu cerita yang utuh.

 

Iklan