Rumah kami jadi sepi sekali. Tinggal saya dan Mira. Oma sendiri sudah pergi berjalan-jalan ke berbagai tempat di mana anak-anaknya kini bermukim.

Sejak hari Rabu lalu Oma berangkat ke Surabaya bersama Engky dan Nesar. Mereka merupakan rombongan terakhir yang berangkat pasca pemakaman Opa.

Rumah kami sangat ramai ketika Opa meninggal pada 11 September lalu, Keluarga berdatangan dari Jakarta, Manado, Kendari, Surabaya, Luwu Timur, dan Toraja. Banyaknya keluarga yang datang membuat kami harus meminjam rumah tetangga agar kerabat kami tidur di sana karena rumah kami sudah enuh sesak.

Selama seminggu rumah selalu riuh, baik sebelum maupun sesudah opa dimakamkan pada 14 September. Makanan nyaris tak pernah kosong, pembicaraan nyaris tak pernah berhenti.

Namun sejak Sabtu 17 September, rombongan besar mulai meninggalkan rumah. Pertama rombongan bapak dan ibu yang berangkat ke Mangkutana pada jam 7 pagi. Kemudian disusul Tante Mawar dan Anggara ke Manado pada jam 10.

Mama Oldi, Obed, dan Jones terbang kembali ke Jakarta pada jam 13 hari itu dan terakhir rombongan Om Doni berangkat ke Mangkutana pada jam 15.

Setelah rombongan besar itu pergi, dua hari kemudian Bapak Anggara pamit untuk tinggal di hotel. Dia kebetulan ada pekerjaan dinas di Sulawesi Selatan bagian Selatan dan kembali ke Manado pada 24 September.

Dengan kepergian Oma selama entah berapa lama, saya dan Mira kembali mengurus rumah secara mandiri. Sebelumnya kami tinggal bersama Oma dan Opa.

Kami memutuskan untuk mengubah suasana rumah. Kami ingin suasana rumah yang lebih sederhana dan lebih lapang. Kami menyisihkan beberapa lemari ke gudang, menata foto-foto, dan menaruh rak buku ke ruang utama.

Kami ingin kesegaran baru dengan suasana yang lebih muda. Sering saya mengeluh, rumah keluarga milik Bapak di Makassar ini lumayan luas, tapi suasana di dalamnya sempit.

Suasana sempit terasa karena banyak lemari-lemari tua milik oma yang tumplek blek di ruang utama. Barang-barang oma sangat banyak. Ia banyak menyimpan piring, alat masak, sikat gigi bekas, beras yang entah berapa lama dan pisang sale yang belum digoreng,

Saya suka sale atau yang kami sebut dengan dompok. Tapi untuk sale yang kami tidak tahu dibuat sejak kapan, memakannya jadi hal yang ngeri-ngeri sedap.

Dalam pembicaraan telepon, Bapak mengatakan kebiasaan orang tua di Indonesia menyimpan barang-barang walaupun sebenarnya barang-barang itu tidak dipakai lagi.

Sekarang, dengan suasana dalam rumah yang lebih segar kami berharap mendapatkan semangat baru. Mira berharap mendapat pelanggan-pelanggan baru dari usaha penjualan dasternya, dan saya juga berharap bisa mendapatkan clien-clien baru untuk usaha content writing yang saya geluti.

Kami belum lama tinggal di Makassar, dan tinggal berdua di rumah merupakan hal yang tidak biasa bagi kami. Selama satu tahun lebih tiga bulan, saya dan Mira tinggal bersama Oma dan Opa. Meski ini rumah Bapak, namun Oma dan Opa sudah tinggal di rumah kami sejak selesai dibangun 20 tahun lalu.

Berbagi dapur bukan hal yang mudah. Perbedaan pandangan dan generasi membuat saya sering berdebat dengan Oma dan Opa. Kerap kali mereka menganggap saya seperti cucu-cucu mereka yang masih kecil dan tengil.

Saya tahu hal itu adalah salah satu bentuk kasih sayang. Namun, saya menegaskan ke mereka bahwa kondisinya sudah tidak seperti itu lagi dan tidak cocok bagi saya untuk dimanja-manja apalagi saya sudah menambah tanggung jawab dengan mengurus keluarga.

Kini kami memasuki babak baru meski belum tahu akan berapa lama sampai Oma kembali pulang ke Makassar. Namun, kami ingin beradaptasi dengan kondisi ini.

Kami perlu mengerti seperti apa suasana jika kami tinggal berdua dalam waktu lama dan bagaimana kami harus bersikap dan bertindak jika salah satu dari kami ada keperluan di luar.

Hal ini memerlukan waktu karena selama berada di Makassar kami mengerjakan pekerjaan kami di rumah. Jika salah satu ada keperluan di luar, suasana masih terasa aman karena di rumah masih ada tiga orang.

Namun saat ini, kami harus menentukan bagaimana jika terjadi kondisi darurat atau ada orang-orang yang tidak dikenal datang ke rumah.

Hal itu jelas menjadi sesuatu yang cukup rumit dan menegangkan untuk kami, namun saya yakin kami akan melalui hal tersebut.

Saya ingat ibu saya selalu ditinggal bapak bekerja. Padahal rumah kami di Soroako dulu adalah rumah yang tanpa pagar jadi orang asing bisa masuk ke halaman rumah hingga mengetok pintu kami.

Kami selalu yakin Tuhan akan melindungi kami dan setiap pagi kami mohon kewaspadaan dalam kehidupan ini.

Iklan