CC Pixabay
CC Pixabay

Kemarin saya dan Mira mengikuti misa pagi jam 8.00 di Paroki Maria Ratu Rosari Kare. Kami biasanya mengikuti misa pada hari Sabtu sore karena ikut misa pagi selalu punya ada tantangan.

Saya sering mengantuk jika mengikuti misa di Minggu pagi. Jika speaker di dalam gereja tidak prima, saya tidak fokus mendengarkan khotbah pastor dan saya semakin mengantuk.

Saya selalu takut tidur di tempat umum, apalagi di dalam gereja. Masalahnya, saya selalu mendengkur dan dengkuran saya parah. Jika Mira melihat saya sudah memejamkan mata, ia lalu menyenggol atau mencubit sampai saya kembali melek. Biasanya saya hanya ngeles, bilang sedag serius mendengarkan khotbah pastor.

Pada misa pagi ini, saya memang nyaris tertidur lagi. Namun karena suara pastor yang keluar dari speaker cukup jelas, maka saya berusaha untuk mendengar.

Kebetulan yang memimpin misa adalah salah satu pastor favorit saya dan Mira. Ia selalu membawakan khotbah yang sederhana dan berisi ilustrasi sehari-hari.

Khotbah seperti itulah yang senang saya dengar dari pastor-pastor Katolik. Sebagai seorang yang tumbuh di lingkungan gereja Protestan (dan saat ini status saya masih anggota Gereja Toraja), saya dijejali dengan khotbah tentang surga dan pendalaman Alkitab oleh para pendeta. Jarang sekali pendeta-pendeta gereja reformasi memberikan khotbah bagaimana menjalani firman itu dalam kehidupan sehari-hari.

Inti khotbah pastor kemarin adalah kita harus mengimani perjalanan kehidupan ini sebagai bagian dari rencana Tuhan. Segala hal boleh terjadi dalam kehidupan ini, kita bisa mengambil keputusan yang tampak salah, namun kebaikan Tuhan tidak pernah berkesudahan.

Saya diingatkan dan ditegur lewat khotbah itu. Dalam setahun terakhir, saya merasa kalau saya terlalu mengandalkan kekuatan saya sendiri. Saya merasa dengan pengalaman dan penghargaan yang pernah saya raih, saya bisa mendapatkan pekerjaan idaman dengan mudah. Anggapan itu ternyata salah total.

Saya juga masih dihantui merasa bersalah dengan keputusan saya pindah dari Batam ke Makassar. Awalnya, saya memutuskan pindah karena adanya peluang untuk bekerja di sebuah organisasi non profit. Selain itu saya mempertimbangkan di Makassar kami tak perlu lagi mengontrak rumah karena ada rumah keluarga yang dibeli bapak di sana, meski kami harus berbagi dengan opa dan oma.

Namun, ketika sudah di Makassar, kenyataanya tidak seperti yang direncanakan. Dana untuk organisasi yang rencananya akan saya masuki ternyata dihentikan oleh donor. Akibatnya organisasi tidak menerima pegawai untuk posisi itu.

Ketika saya membicarakan hal tersebut dengan Mira, saya merasa bersalah karena kami sudah meninggalkan kehidupan kami di Batam demi harapan untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Namun, ketika kenyataan tak sesuai harapan, saya merasa hidup saya terpuruk.

Satu hal yang saya syukuri adalah sebelum pindah saya ditawari pekerjaan untuk mengisi konten sebuah website berita. Uangnya memang tidak banyak, tapi cukup untuk membayar kebutuhan bulanan.

Dua bulan setelah kami pindah di ke Makassar, saya dan Mira sepakat memutar uang tabungan kami untuk menjalankan usaha. Kami membuka usaha penjualan daster dengan modal setengah pesangon dari Batam.

Setelah setahun kami menjalani bakulan daster dan menulis konten, kami masih bisa bertahan hidup. Saya tidak menyadari hal itu.

Memang, kami harus menjalankan strategi-strategi tertentu dan hidup kami tidak berkelebihan. Tidak ada THR, bonus koperasi guru, atau hadiah menang lomba jurnalistik. Namun, ternyata kami juga tidak berkekurangan.

Dari situ saya menyadari Tuhan memelihara kami selama setahun ini. Di saat rasa bersalah menyerang, selalu muncul di benak saya bahwa jika Tuhan menghendaki kami pindah, ia akan mencukupkan dan membukakan jalan untuk kami.

Saya akui, meski saya meyakini penyertaan Tuhan namun beberapa waktu belakangan saya kurang berdoa. Saya tidak mengawali dan menutup hari dengan doa. Barangkali hal ini yang membuat saya kerap tak merasakan dan melupakan penyertaan-Nya, dan mendorong saya mengandalkan kekuatan sendiri.

Jika saya melihat ke belakang, ternyata ada beberapa hal yang belum sempat saya syukuri. Pertama adalah kami ternyata sanggup mencari nafkah sebagai entrepreneur, Mira dengan berdagang dan saya menulis konten.

Oke, mungkin jalan hidup ini tidak selamanya kami geluti. Tapi saya tidak pernah menyangka kalau ada masa di dalam kehidupan saya di mana saya mencar nafkah bukan sebagai pegawai.

Kedua, saya terus mencari ilmu mengenai penulisan konten baik itu untuk mengisi website, blog, atau pemasaran. pengetahuan-pengetahuan seperti ini menambah kemampuan menulis yang sebelumnya saya dapatkan saat bekerja sebagai wartawan.

Klien saya mungkin belum banyak, namun saya yakin jika memang ini jalan yang Tuhan berikan bagi saya saat ini, akan ada peluang terbuka bagi saya untuk menemukan klien-klien baru.

Ketiga, saya bersyukur tidak lagi mengeluhkan gaji kecil yang diberikan oleh perusahaan. Saya bersyukur pernah bekerja sebagai wartawan. Namun, jika kamu bekerja di perusahaan pers daerah atau perusahaan pers yang tidak termasuk penerbit top nasional, jangan harap mendapatkan gaji yang tinggi.

Benar, wartawan adalah panggilan hidup dan seperti ini yang sering kamu dengar di banyak workshop soal bekerja di dunia pers. Namun terkait korporasi pers, tidak banyak yang sanggup memberikan upah layak bagi karyawannya.

Anda mungkin sering melihat para buruh yang berdemo menuntut peningkatan kesejahteraan. Buruh-buruh seperti itu bekerja selama delapan jam dan jika harus lembur, mereka akan menerima uang lembur. Sementara pers pekerja pers dituntut bisa bekerja selama 24 jam dan jangan harap kamu akan mendapat uang lembur.

Tidak semua perusahaan pers bertindak kejam pada perusahaannya. Ada yang sering memberi bonus dan tunjangan. Namun, itu tidak banyak dan menurunnya belanja iklan untuk surat kabar dan kecilnya harga iklan di media online membuat bonus dan tunjangan semakin mengecil.

Saya suka kerja jurnalisme, tapi tidak setuju dengan pengupahan yang dilakukan oleh perusahaan. Jika kamu bekerja di perusahaan, maka lembga itu akan mencari keuntungan. Perusahaan tentu mempertimbangkan gaji pegawainya agar tidak mencekik keuangan perusahaan.

Maka ketika ketika karyawan, termasuk wartawan mendapat gaji tak sesuai harapan, maka pembicaraan terkait keluhan sering menjadi topik kala pegawai berkumpul. Khusus untuk wartawan, muncul dorongan mendapatkan uang tambahan dengan menerima pemberian narasumber yang jelas melanggar etika.

Kini saatnya bagi saya untuk mengingat dan mensyukuri semua berkat yang kami dapatkan. Selain itu, kami juga akan mesyukuri pilihan-pilihan yang sudah kami ambil dalam kehidupan ini.

Bisa saja, keputusan kami untuk pindah adalah langkah yang salah. Namun, ketika kami sudah yakin dengan pilihan ini dan yakin akan penyertaan Tuhan, maka tidak ada alasan untuk kembali. Dengan penyertaan Tuhan, kami berharap bisa melewati tantangan dan pergumulan hidup yang akan menghadang.

Iklan