opa-1

Pagi-pagi sekali tanggal 12 September 2016 saya mengecek ponsel. Ada 5 miss call saat itu. Tiga dari Andy dan masing-masing satu dari dua adik ibu, Om Ben dan Om Engky.

Saya merasa aneh karena tidak pernah kedua om itu menelepon saya. Saat itu saya dan Mira sedang mengikuti reatreat di Banteng.

Pikiran saya langsung tertuju pada Opa. Pasti ada sesuatu.

Benar saja, saat saya menelepon Om Ben, saya mendapat kabar kalau Opa sudah meninggal. Saya telepon Om Engky, dia bilang Opa pergi sekitar jam 23.00 tanggal 11 September.

Opa pergi di hari ulang tahun Oma yang ke-74. Waktu itu tercatat ia baru empat malam keluar dari perawatan di rumah sakit Siloam Makassar. Di sana Opa dirawat lebih dari satu bulan karena infeksi di punggungnya. Ia sempat menjalani operasi dan masuk ICU dalam masa itu.

Meski sedih, kami tidak larut dalam ratapan yang dalam karena kami sudah siap jika hari ini menjelang. Sejak opa mendapat serangan stroke kedua pada Maret 2015, anak-anaknya sempat memperkirakan opa akan pergi saat itu.

Nyatanya Opa yang badannya sudah dingin seperti jenazah saat itu kembali sehat dan bisa berjalan. Nafsu makannya kembali dan badannya pernah gemuk dan pipinya tembem.

Saya bersyukur bisa masih bisa mengalami masa-masa terakhir hidup Opa. Masa-masa itu lebih banyak diisi oleh hal-hal yang lucu dan mengesalkan. Di awal-awal kepindahan saya ke Makassar tahun lalu, saya memang beberapa kali berdebat dan bersitegang dengan dia, tapi saya malas memasukkannya dalam hati karena sadar Opa lebih membutuhkan bantuan.

Opa pergi dengan tenang di tempat tidurnya. Kami sebelumnya memperkirakan Opa bakal meninggal di rumah sakit, namun ia ternyata ingin meninggal di rumah dan menunggu istrinya berulang tahun. Buat kami sekeluarga, tidak ada cara kembali ke Rumah Bapa yang lebih indah dari itu.

Begitu saya mendengar kabar kepergian Opa, saya dan Mira langsung berangkat meninggalkan rombongan di Bantaeng. Mereka rencana pulang setelah makan siang, namun kami pamit sekitar jam 9.00.

Setelah dua tahun menghadapi dua kali stroke dan kelumpuhan sejak bulan Mei lalu, perjuangan Opa sudah selesai. Kini di Rumahnya yang baru Opa tak lagi merasakan kesakitan.

Selamat jalan dan sampai bertemu lagi, Pak Guru.

Iklan