mv5bmtq4odkwmtkyof5bml5banbnxkftztgwmzk3ndqwmdi-_v1_sy1000_cr006661000_al_

Menonton serial televisi Amerika menjadi kesenangan saya selama bekerja di rumah. Sejak bekerja sebagai penulis konten lepas waktu saya lebih banyak di rumah dan bisa selalu berada di depan televisi di setiap jadwal serial-serial itu tayang.

Bulan ini saya menonton serial NCIS Los Angeles 7, Blue Blood 6, Bull, MacGyver, dan The Simpsons. Sebelum akhir tahun nanti, saya akan menonton musim baru NCIS, NCIS New Orleans, Hawaii Five O, dan The Criminal Mind.

Saya dan Mira selalu menonton sebagian besar serial itu bersama. Dia yang mengenalkan saya dengan franchise NCIS dan Criminal Mind, tapi tidak terlalu menyenangi Hawaii Five O, apalagi The Simpsons.

Saya suka jalan cerita setiap episode serial-serial itu karena asyik untuk dinikmati. Ada beberapa episode yang kurang garang dan plotnya dipaksakan, namun setiap episode baru merupakan pengalaman yang menyenangkan.

Selain ceritanya yang menarik, satu hal yang saya senangi adalah jarak tiap episode yang berselang satu minggu. Jarak antar episode yang lebih lama membuat ada kerinduan untuk menunggu episode terbaru. Sambil menunggu episode terbaru, saya bisa membicarakan apa yang terjadi di episode sebelumnya dan menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.

Situasi ini berbeda dengan hiburan-hiburan di televisi nasional yang selalu dijejalkan pada pemirsa setiap hari. Tak jarang banyak judul yang ditayangkan selama tujuh hari dalam seminggu. Sebut saja itu Tukang Bubur Naik Haji, Tukang Ojek Pengkolan, Fesbukers, Opera van Java, atau yang lebih lama seperti Cinta Fitri. Belum lagi serangan serial asal India Uttaran, Mahabarata, dan Jodha Akbar.

Sudah lama stasiun-stasiun televisi nasional dikritik karena menampilkan tayangan-tayangan berkualitas rendah. Sayang, Komisi Penyiaran Indonesia mati kutu untuk mendorong peningkatan kualitas tayangan. Sanksi yang mereka terbitkan tak membuat stasiun televisi dan rumah produksi jera. Menurut komisi, lebih utama mengaburkan belahan dada dan rok yang sedikit di atas lutut yang muncul hanya beberapa detik ketimbang mengambil tindakan atas sinetron-sinetron yang tidak mendidik.

Banyak orang yang menyayangkan malasnya stasiun televisi nasional menayangkan sinetron bermakna di masa lampau seperti Keluarga Cemara, Bidadari, atau bahkan Tersanjung. Stasiun TV lebih senang mengambil banyak slot di jam-jam utama untuk menjejali pemirsanya dengan tayangan yang membawa pesan bahwa kehidupan ini hanya bisa dinilai dengan uang dan kekayaan plus intrik rumah tangga.

Saya tidak mengatakan serial negara sana juga bermakna, namun saya ingin merefleksikan bagaimana serial-serial itu dalam proses kreatif yang saya kerjakan, entah itu menulis atau fotografi.

Serial-serial itu mengajarkan saya untuk bersabar dan mementingkan kualitas dalam setiap tulisan atau foto yang saya buat. Satu tahun terakhir saya lebih sering membiarkan foto saya mengendap setelah beberapa waktu di memori kamera atau di hardisk komputer. Tulisan yang saya buat juga banyak yang saya endapkan di notes pribadi.

Saya sengaja melakukan itu dan tidak langsung mengunggahnya ke media sosial atau ke stok foto. Mengendapkan hasil kerja selama beberapa waktu membantu saya untuk melepaskan emosi dari karya-karya itu. Tanpa perasaan yang berlebihan, saya lebih mudah mengedit dan memilih materi yang akan saya unggah ke internet.

Ini sebenarnya metode yang dilakukan ada jaman fotografi analog. Para fotografer, meski punya akses untuk cepat-cepat memproses filmnya, lebih menunggu dalam waktu beberapa minggu bahkan tahun untuk memproses dan mengembangkan film dan fotonya.

Alex Webb dalam sebuah video mengatakan, jika ia membiarkan fotonya mengendap dalam waktu dua atau tiga tahun sebelum melakukan seleksi untuk proyeknya, maka ia akan mendapatkan perasaan yang berbeda ketimbang langsung melihatnya beberapa jam setelah memotret.

Hal yang sama saya lakukan dalam tulisan. Setelah selesai menulis, baik itu di komputer maupun tulisan tangan, saya selalu meninggalkannya mengendap selama beberapa waktu sebelum mulai mengeditnya. Saya melakukan hal lain kecuali membaca tulisan saya.

Ketika saya siap untuk membacanya kembali, saya merasakan hal yang berbeda dan lebih terbuka untuk melihat kesalahan yang lakukan, misalnya typo atau kalimat yang terdengar tidak enak di telinga. Jika perlu saya membacanya keras-keras.

Kita sekarang hidup di jaman digital yang serba cepat. Pembuat gadget, media sosial, media mainstream, dan penyedia jasa internet menjebloskan kita dalam paham di mana kecepatan adalah raja.

Jadinya kita dipaksa harus tahu berita apa yang tengah hangat beberapa menit yang lalu. Oke, jika itu peringatan bencana tidak masalah. Namun kita juga diajak untuk mengikuti perkembangan hal-hal yang kadang tak punya dampak pada kehidupan sehari-hari. Media misalnya mengajak saya agar tidak ketinggalan menyaksikan sidang pembunuhan Mirna atau aksi Ahok yang ada di Jakarta.

Sementara itu, kita hidup di dalam norma baru di mana segala sesuatu harus disampaikan di media sosial seketika itu juga. Kita memotret, lalu unggah ke facebook dan instagram. Ada yang tidak beres dalam hati dan lingkungan, update status. Suami atau istri menyebalkan, wall facebook jadi tempat curhat. Doa dan syukur pun kini banyak disampaikan lewat sosial media, seakan-akan Tuhan juga membeli gadget untuk memantau status umat-Nya.

Saya tidak mengatakan bahwa pendekatan kecepatan adalah hal yang buruk atau salah. Jika kamu jurnalis yang bekerja untuk media online atau koran harian, kamu tidak bisa lepas dari tuntutan itu. Jika kamu senang memotret dan langsung mengunggahnya ke media sosial, lakukanlah selama itu membahagiakan untukmu.

Saya hanya katakan, pendekatan seperti itu tidak cocok untuk sebagian besar kerja kreatif yang saya lakukan. Saat masih menjadi wartawan, itu alasan saya menyukai jurnalisme mingguan ketimbang diminta untuk membuat tiga atau empat berita sehari untuk koran pagi.

Kita tidak bisa mengelak perkembangan teknologi, namun keputusan dan cara menggunakannya adalah mutlak di tangan kita penggunanya.

Untuk saya, menulis dan memotret adalah sebuah terapi bagi jiwa dan kreativitas. Kedua hal itu adalah pekerjaan kreatif yang membutuhkan waktu untuk meramu ide, mengeksekusinya, mengedit, dan menerbitkannya.

Karena kedua hal tersebut adalah terapi untuk saya, saya tidak terlalu pusing dengan kunjungan, like, atau komentar. Jika ada yang memberikannya, itu adalah bonus. Saya hanya berharap, seperti serial mingguan yang tidak dibuat dengan sistem kejar tayang, tulisan dan foto-foto yang saya bagikan di internet dapat memberikan makna bagi mereka yang membaca dan melihatnya.
Salam,

Eky

Iklan