Josh Wilburne / Unsplash
Josh Wilburne / Unsplash

Pernahkah anda berpikir, mengapa saat Apple mengumumkan akan meluncurkan iPhone seri terbaru ada ratusan hingga ribuan orang di seluruh dunia rela mengantri hingga bermalam di depan iStore yang ditunjuk ?

Apa iPhone yang mereka beli dua tahun sebelumnya sudah rusak?

Tidak. Mereka berbondong-bondong bukan karena HP lamanya tidak lagi berfungsi. Mereka juga datang bukan untuk memuaskan gengsi memiliki iPhone seri terbaru (oke, ada sebagian yang punya pikiran seperti itu).

Tapi hal utama adalah adanya ikatan emosional antara orang-orang tersebut dengan produk-produk Apple, terutama iPhone.

Sejak Steve Jobs meluncurkan Machintos pada 1984, Apple selalu memikat dengan gaya marketing bercerita. Tahun 1984 dipilih karena sebelumnya novelis George Orwell menulis salah satu novel hebat 1984 yang bercerita tentang situasi masyarakat yang kacau di masa akhir dunia.

Apple sempat jatuh ketika mendepak Jobs, namun setelah ia kembali ke perusahaan yang didirikannya itu pada akhir 1990-an, Apple langsung menggebrak dengan iMac generasi pertama (G3).

Dalam promonya, Apple mengajak pengguna PC merasakan pengalaman yang berbeda dengan menggunakan iMac. Apple mengincar pasar anak muda, salah satunya dengan beriklan terus menerus di MTV.

Saya masih ingat kerennya G3 di iklan MTV Asia yang saat itu masih dipandu VJ Jamie Aditya, Nadia Hutagalung, dan Mike Kasem. Chasing monitor warna warni dan transparan dan PC yang menyatu dengan monitor membuat G3 laku keras.

Apple merupakan salah satu perusahaan yang jago memasarkan produknya dalam dengan cara bercerita atawa storytelling. Setiap kali meluncurkan produknya, CEO Apple selalu melakukan presentasi dan menunjukkan bagaimana kerja gadget dan aplikasi bawaannya.

Cerita atau kisah akan terus tertanam dalam benak dan hati konsumennya. Apple telah lama melihat itu dan banyak perusahaan kini mulai menggunakan teknik bercerita ketimbang mengajak pemirsa untuk membeli produknya.

Iklan Metlife di atas juga disajikan dengan gaya bercerita. Seperti layaknya film, ia memainkan emosi banyak pemirsa. Diawali dengan suasana senang, kemudian ada konflik batin yang menguras emosi, serta diakhiri dengan sebuah jawaban. Saya yakin sebagian besar dari anda yang menyaksikan ini menyelesaikan tayangan tersebut dengan mata berair.

Meski dibuat oleh perusahaan asuransi, iklan ini sama sekali tak mengatakan soal perlindungan keluarga atau investasi masa depan seperti yang banyak ditampilkan oleh iklan asuransi lainnya.

Metlife Hong Kong memilih langkah dengan membuat film pendek yang bercerita tentang pengorbanan seorang ayah. Sampai kapan pun, kisah pengorbanan ayah atau ibu selalu memainkan emosi pemirsa maupun pembaca.

Iklan ini dieksekusi dengan sempurna. Layaknya drama, anda akan ikut larut dalam kesedihan sekaligus kebahagiaan sang ayah.

Metlife hanya menampilkan logonya di akhir selama beberapa detik. Namun, orang tidak bisa menolak untuk membicarakannya. Video ini ditonton 13 juta kali di youtube dan jauh lebih banyak di Facebook.

Perusahaan asuransi tersebut memilih untuk menggunakan emosi ketimbang menjejalkan fakta dan informasi mengenai manfaat produknya. Dan dalam urusan membeli sebuah produk, konsumen cenderung melakukannya karena tertarik secara emosional ketimbang logis.

dapatkan-update-terbaru1

Iklan