piye-kabare-enak-jamanku-to-1

Yang Termulia Bapak Presiden Suharto

Apa kabar pak Presiden? Semoga bapak sehat-sehat saja di alam baka.

Saya tidak ingin tahu bapak berada di mana.

Kalau bapak menceritakan tentang Surga, saya khawatir saya ingin cepat pergi ke sana.

Tapi kalau bapak cerita tentang neraka, saya jadinya tidak bisa tidur membayangkan penyiksaan di sana. Apalagi kondisi saat ini sudah bikin saya tersiksa.

Saya hanya ingin cerita pak Presiden.

Saya sempat merasakan masa kecil berada di masa pemerintahan Bapak.

Waktu itu semua serba ada. Beras cukup, kita kan swasembada.

Dolar waktu itu lama sekali ada di posisi 2000 perak.

Karena kenyang dan tercukupi, saya jadi nyaman untuk belajar dan menghapal nama-nama Menteri Kabinet Pembangunan 5.

Singkat cerita, karena rasa sejahtera itu, makanya banyak orang di negara yang dulu bapak pimpin ini, ingin kembali ke masa bapak.

Banyak sekali poster-poster bapak yang melambaikan tangan dengan senyum yang menawan, seperti setiap kali bapak mendapat ‘strike’ saat memancing dilaut.

“Piye kabare, lebih enak jamanku, tha?”

Entah itu memang bapak pernah ucapkan atau tidak, saya akui memang enak di jaman bapak.

Tapi….

Karena waktu bapak lengser itu saya baru lulus SD, ada yang mau saya tanyakan Pak Presiden.

Apa benar, waktu bapak berkuasa orang tidak bisa berkumpul dan unjuk rasa?

Kalaupun ada kumpul-kumpul itu hanya pas kampanye Pemilu saja. Yang paling banyak massanya partai nomer dua. Nomer satu dan tiga, kalau massanya kebanyakan dianggap sebagai ancaman keamanan.

Apa benar, kalau ada desas desus yang mengganggu kamtibmas, bapak langsung ambil tindakan tegas, seperti di Jogja tahun 80an itu?

Soalnya begini, pak Presiden. Bapak saya takut sekali sama aparat Pak Presiden.

Waktu saya masih ompong sempat nyanyi guyon, ganti lirik lagu Garuda Pancasila jadi ‘Garuda panca panci, ibu membeli panci, bapak terima gaji, si botak makan terasi’.

Kalau bapak saya dengar seperti itu, dia langsung menegur. Katanya nanti ditangkap ABRI.

Lain waktu, saya bermain video game street fighter di komputer. Sudah cukup lama saya dan adik bermain ketika bapak nonton kami main.

Ketika kami sampai di kandang Zangief di Uni Soviet, di arena Street Fighter ada gambar palu arit. Melihat itu, bapak marah besar.

“Hapus itu lambang PKI.”

“Bahaya kalau ketahuan nanti kita ditangkap”

Pak Presiden, apa jaman bapak seseram itu?

Sayang sekali Pak Presiden mangkat ketika sosial media mulai mendapat tempat di hati dan kehidupan warga bapak. Jadi Bapak belum sempat merasakan membaca status facebook yang menusuk kalbu.

Bapak belum sempat jadi mantan baper karena membaca olok-olok yang merusak citra bapak di FB.

Barangkali, Pak Presiden masih sempat melihat-lihat profil lawan politik bapak di Friendster sambil merindukan akun pak BJ Habibie atau mantan mentri-mentri Kabinet Pembangunan melihat profil bapak.

Walaupun beda empat tahun, jaman FS jauh beda dari FB, Pak. Di FB, bapak tidak bisa tahu siapa yang lihat profil bapak. Tapi orang-orangnya lebih sadis daripada yang ditunjukkan di film-filmnya Joshua Oppenheimer itu.

Jika Bapak bisa kembali hidup dan segar bugar, dan karena suratan takdir kembali lagi memimpin bangsa ini kami akan senang sekali karena dolar mungkin bisa kembali ke 2000 perak dan premium jadi 700 rupiah.

Tapi, tolong bapak kendorkan sedikit ya.

Soalnya, kami sedang tidak sanggup mengontrol jempol untuk tidak mengolok-olok presiden sendiri.

Bapak mohon kalem aja kalau ada Netizen yang menulis ‘Presiden gila’. Atau ‘Preeetsiden”. Ya, bapak disamakan dengan kentut.

Bapak jangan marah kalau Pancasila yang bapak cintai dihina.

Bapak jangan baper kalau senyum bapak hanya dianggap pencitraan, atau bapak dikatai pengecut karena strategi bapak dianggap melarikan diri.

Bapak juga jangan ngamuk kalau bakal sering orang-orang ngumpul di depan Istana. 5 orang, 10, 100, 5000, atau 100 ribu. Sekarang bapak tidak bisa lagi membungkam pendapat rakyat.

Kalau bapak ngamuk, nanti keyakinan bapak dipertanyakan.

Mbok yakin pak. Bapak sudah tidak bisa lagi seperti tahun 60an, 70an, 80an, atau 90an. Waktu itu kalau ada gerakan atau organisasi yang dicurigai mengganggu stabilitas keamanan dan jalannya pembangunan bapak bisa minta Kopkamtib untuk membunuhnya bahkan sebelum gerakan itu lahir.

Sekarang, bapak pasti dituduh melanggar HAM. Lebih parah, itu tadi pak, agama bapak dipertanyakan.

Kami ingin jaman bapak kembali. Kami dapat pangan murah. Dolar rendah. Aman. Tentram. Dan ada undian SDSB, karena siapa tahu saya bisa kaya mendadak.

Tapi, jangan larang kami berpendapat, jangan larang rakyat bapak unjuk rasa di depan istana. Termasuk Pak, jangan larang netizen mengolok-ngolok Bapak. Karena hanya dengan mengolok-ngolok presidennya, orang itu merasa puas.

Maaf kalau saya tidak sopan, Pak Presiden. Karena saat ini semua serba digital, mungkin orang yang mengolok-olok bapak merasakan sensasi masturbasi digital. Mendapat kenikmatan karena ulahnya sendiri menggerak-gerakkan tangan.

Akhirkata saya yang ingin sampaiken, Pak. Saya pernah membaca biografi Benny Moerdani. Ketika Pak Benny kasih saran soal anak-anak Bapak, Pak Presiden yang sedang menyodok bola bilyard diam, lalu meninggalkan Pak Benny bersama stik dan bola-bola sodok.

Jadi, jika bapak kembali membawa suasana jaman Bapak, jangan cepat mutung ya pak.

Begitulah masa sekarang pak. Rakyat Bapak hanya mau enaknya saja. Maunya kebutuhan perut dipenuhi seperti jaman Bapak. Tapi orang masih bisa mengolok-olok Bapak seperti jaman Jokowi.

Semoga bapak selalu tersenyum, seperti senyum Pak Jokowi.

Seperti Jokowi, bapak tidak perlu reaktif dan membalas setiap olok-olokan karena itu tidak akan pernah berakhir hingga lebaran kuda.

Jadi, apapun itu senyum dan lambaikan tangan bapak kepada rakyat. Walupun senyum dan tawa bapak kadang-kadang seram seperti video jambore nasional yang sempat viral.

Senyum ya pak.

Karena kalau bapak diam saja, saya merinding.

 

Terima kasih Pak Presiden.

 

Sampaikan salamku pada Tuhan Maha Pengasih

Iklan