Badminton Thomas and Uber Cup 2018 in Bangkok
Sumber: http://www.nst.com.my

Tim bulutangkis Jepang meraih pencapaian hebat di ajang Piala Thomas dan Uber 2018 yang berlangsung di Bangkok pada 21-27 Mei 2018. Tim Piala Uber Jepang berhasil meraih juara sementara tim Piala Thomas Negeri Sakura itu sukses melaju hingga partai final.

Cabang bulutangkis Jepang memang tengah berada pada kondisi puncak. Terutama di sektor puteri, baik di tunggal maupun ganda menelurkan pemain berprestasi yang sanggup menumbankan dominasi China yang berkuasa di sektor tersebut.

Sejumlah kejaraan dimenangkan, baik itu Kejuaraan Dunia, Super Series Premier, hingga olimpiade. Kini, Jepang berhasil merengkuh Piala Uber yang selama 37 tahun dikuasai Cina, Indonesia, dan Korea Selatan.

Di balik keperkasaan para pebulutangkis Jepang di arena pertandingan, ada rahasia yang membuat mereka istimewa. Disampaikan oleh anggota tim pelatih Jepang asal Indonesia Reony Mainaky, meski tercatat sebagai pebulutangkis profesional, olahraga tepok bulu bukanlah satu-satunya sumber nafkah para pemain Jepang.

“Hampir semuanya bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan,” kata Reony seperti dalam wawancaranya dengan CNN Indonesia.

Menurut Reony, bekerja sebagai karyawan sembari menyandang status sebagai pebulutangkis profesional sudah lazim di Jepang. Bagi para pemain Jepang, hidup mereka tak hanya di bulutangkis.

“Kalau tak ada event besar, mereka kembali ke dunia pekerjaan, bukan sebagai atlet,” ujar Reony.

Situasi sebagai karyawan pada awalnya menjadi tantangan bagi Reony ketika mulai menangani tim nasional Jepang, atau pemain-pemain yang baru masuk dalam pemusatan latihan nasional. Ia banyak membenahi masalah mental pemain dengan menanamkan pentingnya tujuan dalam perkembangan karir mereka.

Kepada para pemain Jepang, Reony terus memompa semangat anak asuhnya sehingga ketika kalah, mereka kemudian bangkit dan mencoba lagi sampai tujuannya terwujud. Selain itu, dari dalam diri para pemain ada kesadaran untuk membela nama negara melalui bulutangkis.

Menjalani dua pekerjaan sebagai karyawan sekaligus atlit rupanya tidak menjadi masalah bagi para pemain. Reony menuturkan, sejak awal para pemain paham betul untuk menyesuaikan waktu berlatih setelah jam kerja selesai, termasuk untuk beristirahat. “Itulah bedanya, budaya mereka dalam hal waktu sangat bagus. Itu yang harus kita pelajari dari mereka,” terang dia.

Sebagai atlit nasional, para pemain mendapat dispensasi dari perusahaan tempat mereka bekerja. Itu merupakan bentuk dukungan yang diberikan kepada para atlit yang membawa panji negara.

Semua upaya itu kini membuahkan hasil karena dalam empat tahun terakhir. Tahun 2014 Jepang mentas di final Piala Thomas untuk pertama kalinya dan langsung menjadi juara setelah menumbangkan Malaysia lewat pertawungan ketat 3-2. Di tahun yang sama tim Piala Uber juga masuk final untuk kali pertama sejak 1981, namun harus takluk dari China 1-3.

Prestasi itu berulang di tahun ini. Baik tim Thomas maupun Uber Jepang sama-sama menembus final. Namun di Piala Thomas, Jepang harus mengakui keunggulan China 1-3. Sementara sejarah diukir oleh tim Uber setelah merebut gelar yang telah dinanti selama 37 tahun.

Semua itu berkat kerja keras para pemain, tim pelatih, dan dukungan masyarakat Jepang. Dengan etos kerja seperti itu, Jepang diyakini akan terus melahirkan bibit-bibit baru yang akan membawa negara itu menjadi salah satu penguasa bulutangkis dunia dalam waktu dekat.

Iklan