© Yermia Riezky

Keramaian yang tak biasa tampak di salah satu galangan pembuatan perahu pinisi di Desa Tanah Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Bulukumba. Puluhan warga bergabung dengan pengunjung yang datang dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan bahkan provinsi lain mengelilingi satu perahu pinisi dengan lambung bercat putih merah.

Dua utas tali tambang yang terikat di bagian belakang pinisi membentang dari bagian belakang kapal menuju ke arah pantai. Pada masing-masing tambang, sebanyak 20-30 orang menggenggam tali sambil menguatkan kuda-kuda, serentak menarik kapal. Di kedua sisi lambung kapal, belasan orang berusaha menyandarkan telapak tangannya dan mendorong lambung kapal agar tak oleng ke kiri atau ke kanan. Dari belakang, belasan warga turut mendorong pinisi agar bisa bergerak ke perairan.

Kegiatan menarik perahu pinisi dari galangan menuju perairan dikenal dengan sebagai ritual Annyorong Lopi, atau ritual peluncuran perahu pinisi. Annyorong Lopi merupakan tradisi masyarakat Tanah Beru yang kerap dilakukan sebelum perahu pinisi mengarungi lautan.

© Yermia Riezky

Istilah Annyorong Lopi berasal dari Bahasa Konjo, yang berarti mendorong (annyorong) perahu atau kapal (lopi). Sehari sebelum ritual ini dilakukan. Warga melaksanakan upacara sangka bala ammossi’dan apassili guna menaikkan doa agar diberikan keselamatan saat ritual Annyorong Lopi digelar.

Ritual ini menjadi salah satu sajian menarik dalam rangkaian Festival Pinisi ke-9 tahun 2018 di Bulukumba. Pada edisi kesembilan, Festival Pinisi kini menjadi agenda pariwisata nasional setelah Kementerian Pariwisata memasukkannya dalam 100 Wonderful Event Indonesia pada tahun ini.

Masuknya Festival Pinisi dalam agenda pariwisata nasional merupakan sebuah penghargaan bagi masyarakat Bulukumba setelah UNESCO menetapkan pinisi sebagai warisan budaya tak benda pada 7 Desember 2017. Pamor pinisi sebagai kapal yang tangguh namun benilai seni tinggi membuatnya terkenal dan mendatangkan peminat dari berbagai penjuru dunia.

Aneka minat itu bermuara ke kawasan pembuatan perahu pinisi di Kecamatan Bonto Bahari. Kawasan tersebut kini dikenal sebagai satu-satunya sentra kawasan pembuatan perahu pinisi tradisional di dunia. Para pekerja yang berasal dari daerah Bonto Bahari dengan cermat bekerja membangun kapal yang seluruh materialnya berasal dari kayu.

© Yermia Riezky

Sebagai satu warisan budaya dunia, pembangunan pinisi memiliki keunikan yang membedakannya dari kapal-kapal lainnya. Pembangunan perahu pinisi dimulai dengan membangun lambung kapal kemudian rangka-rangka utama. Proses ini berbeda dengan pembangunan kapal pada umumnya yang dimulai dengan membangun rangkanya. Selain itu, pinisi tidak menggunakan paku dari besi atau baja sebagai pengait, melainkan menggunakan kayu.

Paduan ketelitian tinggi dan cita rasa seni tinggi membuat harga pinisi melambung jauh di atas kapal-kapal kayu lainnya. Kini perahu-perahu pinisi yang dibuat di Bonto Bahari berharga mulai ratusan juta hingga miliaran rupiah, tergantung dari besar kapal, interior kapal, dan jenis teknologi yang disematkan pada perahu tersebut.

Usai pembukaan festival pada 13 September 2018, sejumlah undangan berkesempatan mengarungi laut dengan dua perahu pinisi mewah yakni Raja Naga Laut dan Helena. Khusus kapal Raja Naga Laut, pinisi ini menjadi kendaraan bagi Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman yang belum lama dilantik Presiden Joko Widodo. Didampingi oleh Bupati Bulukumba A.M. Sukri A. Sappewali, Andi Sudirman menikmati dua jam pelayaran dengan layar terkembang di atas pinisi Raja Naga Laut.

Lewat Festival Pinisi 9 kali ini, Bulukumba ingin mengajak masyarakat untuk kembali menapaktilasi perjalanan legendaris pinisi ke berbagai tempat di dunia. Sembari mengagumi keindahan pinisi di sepanjang pantai Bonto Bahari, festival ini juga menjadi ajang daerah untuk memperkenalkan aneka potensi wisata alam dan budaya di kabupaten paling selatan di Pulau Sulawesi tersebut.

 

Ditulis untuk majalah Travel Club, Oktober 2018.

Iklan