Screen Shot 2019-05-09 at 5.59.46 PM
(www.instagram.com/spursofficial)

Dua hari di pertengahan minggu ini jadi hari yang fantastis bagi sepakbola. Terutama bagi pencinta sejati yang gemar menonton tanpa mendukung satu tim pun, dan bagi pendukung Lduo klub Inggris, Liverpool dan Totenham Hosspur.

Namun, jangan rayakan kegembiraan itu di depan penggemar Barcelona dan Ajax Amsterdam.

Dua klub terakhir pada minggu lalu diprediksi akan bertemu di Final Liga Champions musim ini. Barcelona membantai Liverpool 3-0 di Camp Nou, dan Ajax sukses menumbangkan Spurs 1-0 di London.

Seakan-akan Madrid, tempat final Liga Champions telah siap menyambut final wakil Spanyol dan Belanda itu.

Apa lacur, dewa sepakbola rupanya belum merestui hilangnya keajaiban dari permainan ini. Sekalian, sang dewa menghantam setiap prediksi dengan bantingan-bantingan yang membuat seluruh peramal luluh lantak.

Di Anfield, Barca mengincar satu gol untuk membuat Liverpool kepayahan memburu lima gol. Sebaliknya, The Reds berharap bisa mencetak tiga gol untuk memperpanjang nafas mereka menuju perpanjangan waktu.

Hanya dua hal yang membantu Liverpool. Para pendukung di Anfield, dan harapan. Liverpool bermain tanpa Mohamed Salah dan Roberto Firmino. Sementara Barcelona full team.

This is Anfield (Ini Anfield), dan di Anfield keajaiban terjadi.

Dua pemain pelapis, Divock Origi dan Georginio Wijnaldum masuk dan masing-masing dua kali menggetarkan jala gawang El Barca. Sebaliknya, tak satu pun bola bersarang ke gawang Allison Becker yang tampil sigap, agar tak mengulangi kebobolan tiga gol minggu lalu.

Di Johann Crujf Stadium, Ajax yang punya misi ‘lebih ringan’ jauh melayang setelah unggul dua gol di babak pertama. Spurs masuk ke ruang ganti di waktu jeda dengan tekanan mencetak tiga gol di 45 menit terakhir.

Dan, mereka berhasil mengatasi tekanan itu hingga detik terakhir saat Lucas Moura mengunci gol ketiga timnya dan hattriknya pada malam tadi malam.

Bagi Moura, dan pemain lain yang memimpikannya, tak ada perasaan yang lebih fantastis selain mencetak hattrik di kandang lawan, saat timmu butuh tiga gol ke final dan menggenapkannya lima detik sebelum akhir lima menit waktu tambahan di babak kedua.

Perasaan yang akan mengalahkannya tentu jika hal itu terulang di final, 1 Juni mendatang.

Dua laga ini menunjukkan sepakbola belum kehilangan magisnya. Bagi Liverpool, 14 tahun setelah keajaiban di Istanbul, mujizat itu terulang. Apakah itu lebih besar dampaknya, waktu yang akan mengungkapkannya.

Sang juara La Liga, Barcelona, tak akan lupa pukulan telak ini. Rasanya mungkin jauh lebih telak dari musim 202/2013 di mana kala itu Leo Messi dan kawan-kawan dikuliti Bayern Munchen 0-7 di Semi Final. (Tahun lalu mereka juga tersingkir dari AS Roma di perempat final menski di leg pertama menang 4-1 di kandang)

Sementara bagi Tottenham, ini merupakan puncak dari konsistensi mereka di Liga Champions sejak sembilan musim lalu saat Gareth Bale mengacak pertahanan juara bertahan Inter Milan dan menceploskan tiga gol di Giuseppe Meazza.

Punggawa muda Ajax sendiri kini menunjukkan potensinya, meski belum bisa mengulangi generasi emas 1995. Namun, apakah pertualangan indah mereka akan berlanjut musim depan jika satu demi satu talenta mudanya dicomot klub-klub kaya Eropa?

Tiga minggu lagi kita akan menyaksikan final sesama klub Inggris yang kedua, setelah Moscow 2008. Setelah lima musim gelar berada di tanah Spanyol, musim ini Si Kuping Besar bakal terbang dari dari Eropa Daratan menuju Britania Raya, tempat yang katanya awal dari sepakbola modern.

Di Liga Inggris musim ini, dua kali Liverpool menang 2-1 atas klub London Utara. Ambisi yang sama tentu dikobarkan Juergen Klopp pada timnya agar bisa mengangkat trofi di Madrid, kota asal klub yang mengubur impian mereka musim lalu.

Namun, dengan dua keajaiban di semifinal kedua musim ini, Liverpool tak bisa jumawa. Spurs sudah kepalang tanggung sampai ke final pertamanya di Liga Champion. Manajer Mouricio Pochettino pun ingin melanjutkan tangis bahagianya di final dengan menumbangkan Liverpool.

Tak ada yang dominan saat keduanya bertemu di Stadion Wanda Metropolitano milik Atletico Madrid. Di Liga Champions, rekor pertemuan di Liga bisa segera jadi sejarah. Itulah mengapa setelah meloncat kegirangan bareng Rio Ferdinand dan Glen Hoddle di bilik siaran saluran BT Sport, Gary Lineker lewat akut Twitternya mencuit: “Tak ada yang lain seperti sapak bola.”