Fakum

Aku tak ingat, kapan terakhir kali serius menulis blog ini. Blog ini lama terbengkalai, mulai busuk karena tak pernah kusentuh. 

Membiarkan blog ini begitu saja bukan hal yang murah. Setiap tahun aku masih harus membayar domain sebesar 18 US Dolar, karena aku masih memakai platform wordpress dot com.

Platform ini bukan tanpa masalah. Kadang kubuka blog ku tanpa masuk sebagai administrator.

Di tengah-tengah tulisannya muncul iklan-iklan yang posisinya tak enak dipandang. 

Belum lagi konten iklannya yang tak bisa ku kontrol. Soal lain, walau ada iklan, tak sepeser pun aku dapat dari iklan-iklan itu.

Setahuku, terakhir aku serius mengisi blog ini di semester dua tahun 2016. Banyak saja inspirasi saat itu.

Waktu itu, aku memang sedang membangun brand sebagai penulis konten. Jadi kubuat blogku seinspiratif mungkin, kali-kali saja ada orang yang tertarik dengan gaya menulisku dan mengontakku.

Nyatanya, zonk. Tak ada yang mengontak, tapi aku teruskan menulis. Entah saat itu kerasukan apa.

Saat itu aku mulai mengontak orang-orang yang bisa menjadi target jasaku. Siapa tahu nyangkut, ada yang ingin menulis blog tapi tak bisa menuangkannya. 

Dapat satu, tapi barter produk.

Aduh, aku sebenarnya tak senang dengan konten sponsor. Keluargaku tak bisa makan jika imbalannya barter produk.

Aku tekun menulis, tapi rekening bank kami makin lama semakin anjlok. Akhir Januari 2017, tabungan keluargaku hanya 1 juta. Aku tak tahu bagaimana caranya untuk makan, dan membayar tagihan bulanan. 

Kami terpaksa mengumpulkan uang yang tercecer dari mana saja. Mungkin ada yang tercecer di dalam tas-tas. Ada yang terselip di bawah kasur. Atau mungkin yang masih ada di kantong celana.

Entah bagaimana, terkumpullah sekitar 2 juta lebih sedikit. Untuk kami makan, bayar tagihan, plus kebingungan bulan depan bagaimana. 

Namun rupanya, Tuhan itu setia. Tiba-tiba sebuah perusahaan yang dulu kulamar lewat aplikasi lamaran kerja mengontak. 

Padahal, sudah berbulan-bulan sebelumnya aku melamar. (Pada bagian ini aku merasa deja vu, seakan pernah menjalani hal ini di kehidupan yang lain).

Aku bertemu dengan direkturnya, ia menawarkan pekerjaan sebagai Marketing Komunikasi. 

Aku tak pandai marketing, tapi katanya posisi itu lebih banyak membuat konten untuk bantu rekan-rekan di bagian pemasaran dan penjualan.

Gaji yang ditawarkan di aplikasi lamaran saat itu 10 juta. Sama Direktur waktu itu ditawarkan 3 juta saja, mata aku terbelalak.

Tapi, aku tak sempat menanyakan hal itu. Waktu itu, kami memang membutuhkan dana untuk melanjutkan hidup. Dan setidaknya pemasukan segitu jauh lebih baik, apalagi penjualan daster dan cerutu tak lagi bisa diandalkan,

Sejak aku bekerja pada bulan Februari 2017 itu, aku tak rutin lagi menyentuh blog ini. Pernah aku menulis soal sepakbola, tapi tampak tak cocok. Tapi, bisa saja besok-besok aku tulis lagi. 

Pekerjaan rutin bisa jadi menurunkan kreatifitas untuk menulis. Aku seakan tak punya dorongan, inspirasi, atau apapun itu. 

Aku juga takut, tulisanku sia-sia belaka. 

Masa pandemi ini membuatku kembali memikirkan blog ini. Meski, aku masih bingung, mau dibawa ke mana blog ini. 

Apakah menjadi brand bisnis? Blog olahraga? Blog sains? Atau hanya sekumpulan esai atau curhat pribadi?

Entahlah. Besok-besok, waktu yang akan menjawabnya. 

Yang pasti, waktu kamu membaca ini, ada yang sudah kutuangkan untuk blog ini.

Leave a Comment

%d bloggers like this: