Mengapa sebagian orang tidak tertarik mengekspos dirinya di media sosial? – Quora

Awalnya media sosial dibangun untuk dengan tujuan mulia. Facebook misalnya, menjadi ajang koneksi antar alumni Universitas Harvard dan kemudian memasukkan alumni dari universitas lain di Amerika Serikat.

Saat mulai diakses oleh warganet, ia menjadi ajang reuni, temu kangen antar keluarga, teman lama, hingga mantan yang bertahun-tahun tak berjumpa.

Pengalaman ini juga yang saya rasakan saat pertama menggunakan sosial media mulai dari Friendster di tahun 2003, dan Facebook pada 2008. Bertemu teman-teman lama, membagikan foto aktivitas, bertanya kabar, saling memberi testimoni dan komentar rasanya sangat menyenangkan.

Perlahan saya menyadari kalau sosial media bisa membuat orang bersuara tanpa harus membutuhkan media arus utama atau liputan media. Meski suara dan pesan itu minimal hanya didengar oleh orang-orang di lingkaran dalam sosial medianya.

Media sosial kini lalu berkembang sebagai alat untuk pergerakan sosial hingga pemasaran, terutama ketika Facebook mulai tahu bagaimana cara menguangkan situsnya dengan menanam iklan, menggurita dengan mengakuisisi banyak aplikasi lain seperti Instagram dan Whatsapp.

Namun, beberapa tahun terakhir media sosial sangat dihantui oleh masalah pencurian data dan penggunaannya secara ilegal. Selain itu kecerdasan buatan di sosial media menurut saya sudah mengerikan.

Sebagai contoh, soal Facebook lagi. Beberapa lalu seorang teman mengunggah foto kelompok di FB. Ada sekitar 50 orang lebih di foto itu dan saya tidak berteman FB dengan si pengunggah. Namun tiba-tiba Facebook mengirimi saya notifikasi karena membaca salah satu foto tersebut sama dengan wajah saya dan apakah saya bersedia untuk di tag. Dan memang itu wajah saya dan saya ingat dengan foto itu.

Saya memilih tidak di-tag, namun saya merasa kecerdasan buatan bahkan sudah menghapal wajah saya.

Belum lagi soal pencurian foto, baik itu karya saya yang terkena hak cipta, maupun yang lebih parah foto pribadi. Saya sejauh ini belum pernah memiliki foto diri yang digunakan untuk aksi-aksi negatif dan ilegal, namun banyak akun anonim mencomot foto orang dan menggunakannya sebagai foto profil.

Pembobolan akun juga sering jadi masalah. Kasus banyaknya akun instagram yang di hack, terutama yang memiliki banyak followers tentu meresahkan. Tidak hanya hilangnya banyak followers yang dapat berfungsi untuk menyampaikan pesan baik (atau jahat) atau target konsumen, namun membangun kembali akun baru, tentu butuh waktu dan usaha. Hal yang dikhawatirkan adalah saat awal di hack, akun itu digunakan untuk aksi ilegal yang memiliki konsekuensi hukum.

Namun kekhawatiran saya yang utama adalah masalah kriminal yang mungkin menimpa jika ada yang mengamati akun medsos saya. Beberapa medsos memang saya buat terbuka untuk membagikan karya fotografi. Di medsos itu, saya sebisa mungkin tidak menunjukkan foto anggota keluarga. Saya tak tahu apa motifnya, namun saya khawatir bisa saja lewat akun medsos, ada aksi kriminal yang menimpa anggota keluarga.

Saya juga sangat jarang memposting foto saat berlibur atau meninggalkan kota. Postingan itu hanya menunjukkan bahwa saya tak berada di rumah, kosong.

Hal lain yang menjadi kekhawatiran adalah rawannya postingan medsos dikriminalisasi. Masyarakat kita memang tengah mengampanyekan soal pentingnya kebebasan berbicara, namun masih belum jelas batasan mana yang merupakan masukan, kritik, atau ujaran kebencian (hate speech).

Kiriman medsos yang menurut kita merupakan kritikan yang telah dipertimbangkan dengan bijak dan seksama, oleh orang atau kelompok lain bisa dianggap sebagai penghinaan atau kebencian. Berujung rumit.

Dengan sejumlah keresahan itu, saya masih menggunakan beberapa platform media sosial dan blog. Namun, setiap pesan yang saya kirim melalui akun-akun medsos saya pertimbangkan betul-betul agar tak berujung masalah atau kerugian.

Leave a Comment

%d bloggers like this: