Klub Manakah Yang Layak Menganggap Pirlo Sebagai Legenda ?

Akhir minggu lalu saya memutuskan untuk menggambar Andrea Pirlo dalam balutan jersey AC Milan dan Juventus.

Di versi Milan, Andrea Pirlo yang klimis kugambar berpose dengan jersey AC Milan 2010-2015 musim terakhirnya. Di Juventus, ia berkostum Juventus 2014-2015 yang juga musim terakhirnya di sana. Lengkap dengan brewoknya yang belakangan tenar bak Chuck Norris.

Keputusan itu saya lakukan tepat ketika Juventus mengabari bahwa Pirlo diikat menjadi pelatih Juventus U-23.

Pirlo memang mantan pemain Juventus karena bermain di sana pada tahun 2011-2015. Namun, bagi fans AC Milan seperti saya, Pirlo adalah legenda.

Bagaimana tidak? Sejak 2001-2011 Pirlo menjadi jendral lapangan tengah Milan. Saat perannya diubah menjadi deep lying playmaker oleh Carlo Ancelotti, Jarang sekali Milan turun tanpa Pirlo kecuali ia cedera tau Ancelotti ingin mengistirahatkannya untuk laga selanjutnya yang lebih penting.

Kedatangan Max Allegri tahun 2010 menjadi awal redupnya peran Pirlo di Milan. Awalnya di pertengahan musim pertama Pirlo masih berperan penting. Gol spektakulernya ke gawang Parma dari hampir tengah lapangan jadi salah satu kunci Milan dapat meraih scudetto musim itu, yang terakhir sebelum sembilan musim setelahnya Juventus mendominasi Serie A.

Kedatangan Marc van Bommel di bursa transfer musim dingin jadi awal terpinggirnya Pirlo. Entah mengapa, dalam strategi Allegri di paruh kedua, Pirlo tak mendapat tempat.

Milan sendiri lebih senang bersama Allegri ketimbang meniatkan untuk memperpanjang kontrak Pirlo. Di latihan terakhir, Pirlo dengan air mata berlinang mengucapkan salam perpisahan pada rekan-rekan setim.

Saat itu, tinggal Gennaro Gattuso dan Massimo Ambrosini veteran Milan yang bersama Pirlo sejak didatangkan Silvio Berlusconi tahun 2001.

Allegri mungkin berpikir, Pirlo yang ketika itu berumur 32 tahun sudah habis. Melepaskannya pergi adalah keputusan yang bijak.

Dan, Pirlo dilepas dengan status free transfer…. ke Juventus.

Tak banyak yang mengira Juventus akan bersaing di musim 2011-2012. Namun Andrea Agnelli yang baru saja memimpin Juventus punya perencanaan yang brilian. Ia mendatangkan Beppe Marotta dari Sampdoria.

Marotta lalu mendatangkan Antonio Conte, yang musim sebelumnya sukses meloloskan Siena dari ancaman degradasi. Ia juga mendatangkan sejumlah nama seperti Stepahn Lichsteiner, Artuto Vidal, Mirko Vucinic, dan pemain yang baru dibuang Milan, Pirlo secara gratis.

Conte dipandang sebelah mata karena tak benar ciami di karir sebelumnya. Prestasi terbaiknya adalah saat mengantar Bari lolos ke Serie A 2009-2010 setelah juara Serie B.

Dan Pirlo, mungkin kemampuannya memang tak seperti dulu lagi.

Rupanya sejarah berkata lain. Seperti Ancelotti, Conte rupanya memakai Pirlo sebagai Metronom. Meski tak lagi cepat, Pirlo masih sanggup mengirim umpan presisi andalannya: berlari-lari kecil, menyepak bola seakan tanpa usaha dan tenaga, namun bola melambung menuju sasaran entah Vucinic, Alessandro Del Piero, atau si tampan Alessandro Matri.

Musim itu, Juventus juara Serie A tanpa kalah. Dan Conte melanjutkan raihannya dua musim selanjutnya secara beruntun sebelum diminta untuk melatih timnas Italia menghadapi Euro 2016.

Allegri masuk menggantikan Conte, dan kejadian di Milan kembali terulang. Meski Pirlo jadi pilihan utama Allegri di musim 2014-2015 dan mengantar Si Nyonya Tua sampai ke final Liga Champions.

Keputusan Juventus melepas Pirlo seperti sudah diprediksi. Entah bagaimana hubungannya dengan Allegri, namun di samping itu usianya 36 tahun dianggap uzur untuk menjalani kompetisi tingkat tinggi di Eropa.

Jadi, Pirlo legenda siapa?

Kini menjelaskan status legenda Pirlo jadi hal yang rumit. Masih pantaskah dia disebut legenda Milan, tempat ia merasa dua gelar Liga Champions, dua Scudetto, dua Piala Super Eropa dan masing-masing sebiji Copa Italia dan Piala Dunia Antar Klub?

Atau, apakah ia kini lebih cocok disebut legenda Juventus setelah empat kali meraih Scudetto dan sekali Copa Italia? Belum lagi Scudetto pertamanya di sana diraih tanpa menderita kekalahan sepanjang musim.

Tentu jadi perdebatan fans kedua klub. Belum lagi kalau Brescia, Reggina, dan Inter masuk-masuk sebagai klub Pirlo sebelum Milan.

Andrea Pirlo berdiskusi dengan Paolo Maldini dalam saat berkunjung ke Milanello di bulan Februari 2019. (Sumber: acmilan.com)

Sebelumnya, tahun lalu Pirlo datang ke Milanello dan kongkow bareng Paolo Maldini sambil menonton latihan para penerusnya. Ia juga pernah kumpul bareng Massimo Ambrossini dan Massimo Oddo ketika Leonardo masih jadi direktur di sana, awal tahun lalu.

Pemandangan itu seakan menyiratkan karir Pirlo ke depan, mungkin akan bersama AC Milan.

Namun, keputusannya melatih tim Juventus B, tak sedikit menjadi kekecewaan fans Milan. Meski sebagian tetap memandang Pirlo sebagai legenda dari sisi raihan Liga Champions.

Bagi saya yang juga agak kecewa, cukup paham bahwa keputusan Pirlo adalah langkah profesional. Setelah mendapat lisensi kepelatihan, apa yang dia lakukan selain melatih? Walaupun dia bisa saja jadi direktur seperti Maldini atau pundit televisi seperti Ambrosini.

Simpang siur legenda dua klub yang punya persaingan sejarah memang menarik diperdebatkan.

Ancelotti contohnya. Ia ditunjuk melatih Juventus selama 2,5 musim menggantikan Marcelo Lippi meski capaian terbaiknya hanya runner-up scudetto dua kali, kalah dari Lazio dan Roma. Padahal Ancelotti sendiri lama bermain untuk Milan dan AS Roma.

Belum lagi Fabio Capello yang seperti Pirlo, bermain untuk Juventus dan Milan lalu sukses pula saat melatih kedua klub. Pelatih Milan saat ini, Stefano Pioli juga mantan pemain Juventus di tahun 1980-an.

Pirlo sendiri kepada media bilang, ia tak punya teman dekat lagi di Milan kecuali Maldini. Mungkin jika Berlusconi dan Galliani masih menguasai Milan, cerita bisa lain. Namun Milan yang saat ini dalam masalah manajerial bukan Milan yang sama seperti masa gemilang Pirlo bermain.

Jika nantinya Pirlo sukses, apakah Milan bisa mendatangkan mantan pemain legendarisnya itu?

Tentu jika keuangan Milan sudah jauh lebih sehat. Namun, tak ada gunanya mendebat keputusan Pirlo yang bahkan belum memula laga pertamanya sebagai pelatih.

Kini waktu yang akan membuktikan, seajauh mana Pirlo dalam manajemen permainan. Apakah akan sama dengan sejarah yang dibuat Ancelotti dan Capello?

Leave a Comment

%d bloggers like this: