Setahun Lalu Hari Ini, PSM Makassar Akhiri Puasa Gelar 19 Tahun

Susunan pemain PSM Makassar di leg 2 Final Piala Indonesia 2018:
Atas ki-ka : Rivky Mokodompit, Aaron Evans, Rizky Pellu, Guy Junior, Abdul Rahman, Wiljan Pluim
Bawah ki-ka : Benni Wahyudi, M Rahmat, Ferdinand Sinaga, M Arfan, Asnawi Mangkualam
Darije Kalezic

PSM Makassar mengakhiri puasa gelar mayor selama 19 tahun setelah menjuarai Kratingdaeng Piala Indonesia 2018, tepat setahun yang lalu (6 Agustus 2019).

Setelah kalah 0-1 di final Leg 1 di Jakarta dua minggu sebelumnya, pelatih Darije Kalezic melakukan perubahan dalam susunan tim.

M Arfan masuk menggantikan Marc Klok yang terkena akumulasi kartu kuning di final leg 1. Wiljan

M Arfan

Pluim kembali menjadi playmaker setelah absen di leg 1 karena cedera.

Di bawah mistar, Rivky kembali setelah cedera di leg pertama final. Di depan, Kalezic mempercayakan ujung tombak ke Ferdinand Sinaga setelah ia sama sekal tak diturunkan di final pertama.

PSM Mengincar gol cepat untuk menyamakan agregat. Harapan itu terwujud setelah Aaron Evans menyundul sepak pojok Pluim di menit ketiga.

Dari tribun kelas pekerja di sisi utara stadion, gol itu begitu prima: terarah ke pojok, menukik, dan kencang.

PSM menguasai laga setelah gol pertama. Tapi banyak peluang digagalkan oleh kiper Persija, Andritani. Sebiji peluang dari sepakan Ferdinand membentur tiang gawang.

Aaron Evans

Persija sendiri gontai setelah gelandangnya Sandi Darma Sute di menit-33. Kepemimpinan wasit Fariq Hitba saat itu bikin penonton senewen. Ia begitu gampang dan cepat merogoh kartu. Saya sempat khawatir Arfan yang menggantikan Klok akan mendapat kartu merah setelah pelanggaran pertamanya langsung berbuah kartu kuning.

Di sisi lain PSM juga menemui kendala. Di pertengahan babak pertama, Kalezic harus mengganti Guy Junior dengan Zulham setelah Guy cedera dan harus langsung dilarikan ke rumah sakit dengan ambulan

Meski masuk sebagai pengganti, Zulham rupanya jadi jawaban atas gol kedua yang ditunggu-tunggu. Menerima umpan Evans di awal babak kedua, Zulham menyundul umpan yg dilambungkan Evans.

Sundulan yang cukup lemah, tapi Andritani di masa-masa itu sedang tidak prima. Tepisannya malah bikin bola masuk ke gawang sendiri.

Persija hanya butuh satu gol tandang untuk juara. Dan, Marko Simic nyaris menjadi bintang malam itu. Di sekitar menit-84, ia menyambut satu sepakan bebas dengan sundulan.

Di tengah kerumunan pemain, Simic melompat paling tinggi. Ia menyundul si kulit bundar.

Rivky Mokodompit, The Save Hand

Bola mengarah ke titik gawang yang kosong, waktu serasa lambat, sampai tangan Rivky melakukan penyelamatan terpenting di Mattoanging dalam 19 tahun terakhir.

Skor laga itu berakhir 2-0, PSM juara dengan aggregat 2-1. Hari itu, warga Makassar berpesta sampai subuh.

Selain mengakhiri puasa gelar mayor selama 19 tahun, raihan juara ini terasa menyenangkan karena mengalahkan Persija, sang juara Liga Indonesia 2018.

Persaingan PSM dan Persija meruncing di akhir musim 2018. Banyak suporter PSM dan banyak suporter di Indonesia tidak puas dengan gelar juara Persija musim itu.

Tim Macan Kemayoran menjadi juara unggul satu poin saja dari PSM. Banyak yang menuding federasi dan penyelenggara liga sengaja mengatur agar Persija yang menjadi juara.

Bagi saya pribadi, tudingan itu sah-sah saja. Namun, PSM juga terlalu banyak membuang poin.

Satu pertandingan yang paling saya sesalkan adalah saat PSM ditahan Perseru Serui 2-2. Sebagai salah satu tim paling lemah di liga, hasil seri itu adalah kutukan besar untuk PSM.

Hasil lain yang bisa disesali adalah kekalahan kandang 2-3 dari Persela Lamongan.

Sejarah itu membuat pertemuan dua laga berlangsung panas di dalam dan di luar lapangan. Dan menang atas tim ibukota, apalagi di final selalu menmbawa sukacita.

Saya jadi teringat tulisan Romo Sindhunata berjudul ‘Fanatisme itu Penyakit’. Dalam tulisan itu, Sindhunata menyebut adanya ‘Fenomena Nobon’.

Nobon Kayamudin adalah pemain PSMS Medan tahun dekade 80-an.PSMS saat itu sedang berjaya dan sering bersaing dengan Persija di kompetisi perserikatan.

Ditulis Sindhunata, Nobon adalah pemain beringas yang ditakuti anak-anak ibukota. Tetap Nobon, karena sikap dan permainannya yang blak-blakan, lugas, dan tanpa komptomo terjadap Persija adalah pujaan anak-anak daerah. Nobon adalah jado daerah menghadapi raksasa ibukota.

PSMS lawan Persija, diam-diam dan tanpa sadar suporter surabaya, Ujungpandang, dan Bandung menjagoi Medan, bukan karena mereka memang ingin Medan juara, tetapi lebih karena mereka ingin Jakarta tumbang.

Dalam pertandingan itu, suporter asal Jawa Timur yang datang ke stadion berteriak ‘Nobon, Nobon, Nobon!’

Menurut Sindhunata, Fenomena Nobon adalah wadah bagi kejengkelan sosial daerah terhadap ibukota. Ke Jakarta pemain-pemain terbaik daerah hijrah. Alasannya demi baiknya nafkah. Tapi, toh diam-diam mreka disedot untuk memperkuat Persija. Di mata daerah, Jakarta itu kaya, aroga, sombong, dan serakah. Bola adalah kesempatan untuk secara blak-blakan membuka apa yang lama disembunyikan: jurang antara ibukota dan daerah, iri hati sosial dan mereka yang miskin dan tidak berdaya terhadap mereka yang kuat, kaya, dan pongah.

 

Bonus: sebagai bentuk perayaan setahun PSM juara Piala Indonesia, saya menggambar karikatur 24 pemain selama perjalanan PSM di Piala Indonesia dan pelatih Darije Kalezic. Beberapa pemain muda tidak masuk dalam gambar tersebut.

Peringatan: dapat menimbulkan gangguan kehamilan dan jantung 

Leave a Comment

%d bloggers like this: